Happy Hajj Mubarak 1432 H

Selamat Idul Adha 1432 H, happy Hajj Mubarak!

For those celebrating Hajj Mubarak, I wish you the very best of my prayers. May we are all able to follow Ibrahim a.s. and his son Ismail a.s. leads for their sincerities, aamiin..

This is our family second year to celebrate Hajj festive without my late sister (I am terribly missing her..). She passed away a year ago. Sedih, bahkan hingga detik ini. Tapi, seperti kata teman saya, Idul Adha adalah Hari Raya Keikhlasan. Jadi, ya kita harus ikhlas atas apa-apa yang digariskan oleh-Nya. Termasuk ridho atas suasana Idul Adha di sekitaran rumah saya yang memang tidak seramai ketika Idul Fitri, yah kecuali di lapangan tempat penyembelihan qurban :) .

Sedikit bercerita apt to bernostalgia.. saya teringat perbedaan suasana Idul Adha di Palembang (kota kelahiran saya) dan di Madura (kampung halaman ayah saya). Kalau di Palembang, Hari Raya Idul Fitri sudah barang tentu lebih ramai ketimbang Hari Raya Idul Adha. Tapi di Madura tepatnya di desa Larangan Badung, Pamekasan, justru kebalikannya. Perayaan Idul Adha lebih terasa geregetnya, bisa sampai berhari-hari. Saya baru satu kali ikut merayakan Idul Adha di Madura, waktu itu Kakek saya akan berangkat haji. Entah karena si Kakek yang mau naik haji atau memang begitu tradisinya, waktu itu saya pikir ‘Wah, tamunya gak putus-putus..’. Dan memang begitu adanya.

Dibandingkan dengan Eid Mubarak, Hajj Mubarak saya kala itu benar-benar meriah. Saya yang terbiasa dengan atmosfir sedikit sepi setiap kali merayakan Idul Fitri di Madura, agak terkejut dengan keriuhan kali itu. Silaturahmi ke rumah keluarga besar, ziarah keluarga, selamatan sekaligus mendoakan keberangkatan Kakek saya ke tanah suci. Saya kurang tahu alasannya. Rasanya dulu pernah tanya, tapi sekarang sudah lupa.. (hehe..)

Oh iya, mereka juga sangat ‘pemurah’ loh. Kalau di Palembang, kue-kue keringnya pasti kecil-kecil. Nah, kalau di sana bisa hampir setengah telapak tangan, hihihi.. And Igot this one hilarious story regarding this particular issue. Pertama kalinya bawa pempek (makanan khas Palembang) ke Madura, saya dibuat ketawa terpingkal-pingkal sama Tante saya. How didn’t I? Pempek lenjer yang saya bawa dari Palembang digoreng sama Tante utuh seutuhnya tanpa dipotong! Untung saya liat! Iya, untung saya main ke dapur so I saved the day, so I saved pempek yang direbus dengan minyak. LOL.

Anyway, once again Happy Ied Adha! And again, saya posting tanpa foto *tepok jidat*.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.